Lima hari berlalu. Masih di senja setelah dua bait kata dari Ayodya terucap dan memisahkan perpaduan kasih antara Athira dan pria kekasihnya. Athira mengenang saat mendampingi Ayodya yang gemar mengikuti festival puisi.
Malam itu, 14 Oktober 2007. Festival puisi tingkat Nasional di gelar. Entah apa yang terjadi dengan Ayodya. Malam itu, hal yang tidak biasa menimpa Ayodya. Ayodya terjatuh, tak sadarkan diri saat mulai membacakan bait-demi bait puisi yang diciptakannya khusus untuk Athira.
Athira mengengingat, setalah Ayodya sadar, Ayodya bercerita kepadanya.
“Sekelebat ingatanku buyar Athira. Lembaran kertas puisi yang ku tulis untukmu berserakan di atas lantai kayu, tempat di mana aku akan membacakan buah karyaku itu,”
“Mengapa hal yang tidak aku inginkan ini harus ku rasakan, saat di mana aku akan membuatmu bangga dengan apa yang telah aku capai. Persiapan yang telah matang selama hampir dua bulan ini harus kandas, hanya karena kerasnya sakit yang mendera di kepalaku,”
“Saat itu aku tak sadarkan diri. Aku hanya mengingat kau berlari, berteriak menyebutkan namaku “Ayodya”.
“Memang itu yang terakhir ku lihat Ayodaya. Kau terjatuh bersama lembar terakhir puisimu,” kenang Athira.
Sambil membuka lembaran kertas dialog yang sempat dicatatAyodya dan kini berada di tangan Athira. Coba ita baca catatan itu.
Kau melanjutkan ceritamu, Ayodya. Kau berkata “Aku sudah tak dapat lagi melihat bayang-bayang tubuhmu yang menghampiriku,”
Ketika itu katamu, hanya telaga warna warni di padang merah hijau yang terlihat. Hamparan itu penuh bunga yang berguguran selepas hujan. Dan tetesan embun di ujung dedaunan pun menitik membangunkanmu. Dalam ketidaksadaranmu itu, kau bilang tidak terlihat siapa pun, kecuali kau dan sosok bidadari.
“Aku perhatikan bidadari itu mulai dari wajahnya, lekuk tubuhnya, pandangan mata dan senyum setengah-setengahnya. Ku yakinkan diriku bahwa kaulah yang membawaku ke hamparan indah penuh ranum bunga itu. Sebab, bidadari itu memang mirip sekali dengan dirimu,” itu katamu ketika itu Ayodya.
Lekas kau sandarkan tubuhmu di pongkahan kayu yang bidadari itu duduk di sisi ujung lainya. Bidadari itu memperhatikanmu dengan senyum setengah-setengah seperti yang aku miliki.
“Oh indahnya suasana ini, atau memang kau sengaja membuatny untukku?” ceritamu saat itu. Kau panggil namaku sekeras siulan lebah. Namun, hanya terdiam, membisu, tak berujar sedikitpun. “Athira,”
Sayangnya katamu, Aku tidak menyadari dirimu memanggil namaku. Nama manusia yang memang tak ada di dalam alam bawah sadarmu saat itu.
Terus diingat-ingat kisah yang membuat Athira lebih tertusuk dadanya. Kenang tentang Ayodya.
“Langkah demi langkah, bidadari itu menghampiri diriku. Sedangkan aku, masih ragu dengan apa yang baru saja ku lihat. Ternyata, bukan kau yang ada di hadapan ku, bukan sosok manusia yang sangat ku kenal tabiatnya. Dihadapanku hanyalah bidadari penjagaku, bidadari yang akan menghantarkan ku ke dunia lain, dunia bawah sadar, dunia antara dunia kita dan nirwana,” sepertinya didengar suara Ayodya yang bercerita.
Padahal hanya beberapa untai kata yang sekarang sedang dibacanya. Catatan yang dituliskan Ayodya.
“Siapa kau..? Apakah kau manusia.?”
Bidadari itu hanya terdiam. Lalu menatap Ayodya dalam-dalam. Seolah berkata, Ikutlah bersamaku ke dunia tanpa rasa sakit dan duka.
“Tidak. Karena bukan di sini aku seharusnya, karena aku harus menuntaskan pentasku di hadapan wanita yang sangat aku sayangi. Di hadapan khalayak yang memang sengaja ku hadirkan untuk memperdengarkan rasa sayangku terhadapnya. Wanita yang selama ini ku puja,”
“Pergi kau. Aku tahu kau bukan manusia itu. Bukan wanita yang aku selalu ingin ada di sisinya setiap saat, setiap waktu, yang selalu mendengarkan isi hatiku, yang selalu menyambut niat baik dan burukku, yang tak akan pernah kecewa walau aku bukan yang terbaik baginya,”
“Di mana aku?”
“Di mana aku..?”
“Kamu masih di tempat yang sama ketika kau terjatuh,” Athira menjawab sesaat setelah Ayodya tersadar dari pingsannya.
Athira mengenang kejadian itu. Dia masih duduk di bangku teras depan rumahnya. Di waktu senja yang sebenarnya tidak pernah ingin ia kenang semua cerita saat bersama Ayodya.
“Mengapa setelah kejadian itu, kau kerap mencuri waktu untuk menemuiku Ayodya. Sampai-sampai kau katakan, kau tak kuasa menghindar dari rasa ingin berjumpa dengan ku, walau sesaat, walau hanya melihat senyum setengah-setengah milikku,” kenang Athira menyesal.
Dan dituliskannya bait kata dalam catatan itu: Ikrar dan janji, memenuhi ruang waktu tuk berbagi. Ikrar serumpun manusia yang tak pernah ingin kecewa.
“Seharusnya ini yang terjadi. Bukan perpisahan kita,” dalam hatinya sendiri.
Senja demi senja Athira lewati, kenangannya bersama Ayodya seakan tidak mau pupus dari ingatannya. Cinta Athira begitu besar kepada Ayodya. Cinta pertamanya yang tidak pernah disangka harus kandas oleh dua paragraf kata.
“Dimana kau kini Ayodya. Masihkau ingat janjimu padaku? Janji dua paragraf kata yang tidak bisa ku lupakan,” menitikkan air mata.
Ingin ku hembuskan nafas terakhirku dalam keadaan kau tersenyum untukku. Lalu terpancar dari matamu isyarat cinta yang tak terganti karena lekang waktu, dengan apapun atau oleh siapapun. Aku tahu, tidak akan ku hembuskan nafas terakhir itu sebelum kau berikan isyaratnya dari mata yang membuatku jatuh cinta saat pertama kali melihatnya. Gadisku, kau hidupku kau hembusan nafas terakhirku, hingga saat itu tiba, ku ingin selalu bahagiakanmu.
“Ku tunggu kau wujudkan itu untukku, Ayodya,” sambil menangis Athira habiskan senja dengan kata lirih itu.
Di senja hari selanjutnya. Masih di teras depan rumah itu, kembali Athira mengingat sebuah cerita yang dituliskan Ayodya. Masih tentang cinta yang kini menyakitkan baginya. Ayodya pernah bercerita mengandaikan betapa besar cintanya kepada Athira dalam sebuah tulisan. Dimulai dari kata-kata “Roro Jonggrang”.
“Dengar Athira! Aku punya satu cerita untukmu,” kata Ayodya dalam tulisan yang kini sedang dibacanya.
“Ceritakanlah, aku pasti senang mendengarnya,” Athira meminta saat itu.
“Bangsa kita sangat mencintai dan mengagungkan sejarah negerinya. Baik roman, babad, hikayat, atau cerita yang hanya sampai dari mulut-kemulut, yang mengalir, meluas hingga menjadi legenda kehidupan yang tersurat banyak hikamah di dalamnya,” mulanya.
“lalu,”
Dilanjutkan oleh Ayodya, ada satu cerita yang menarik dipaparkan melalu lembar-lembar kertas modern abad ini. Maklum saja pada kehidupan yang lalu mereka hanya melihanya di daun-daun lontar, kulit binatang yang disamak, daging-daging kayu yang diawetkan.
“Kalau kamu belum pernah mulihatnya, sesekali kunjungilah musium nasional negerimu yang belum lama ini ku singgahi. Mungkin setelah kau melihatnya kamu akan mengerti perbedaan diantara zaman kamu hidup dengan zaman ku hidup kala itu,” ledek Ayodya.
Singkatnya, dalam cerita yang dikisahkan Ayodya yang kini sedang dipegang nashaknya oleh Athira.
“Aduh... maaf aku agak lupa dari mana harus memulainya, karena moyangku yang mendengar cerita ini turun temurun belum menuliskannya di salah satu media tulis yang ku sebutkan di atas sana, lagi-lagi maklum kelurgaku bukan dari kalangan terpelajar sepertimu,”.
“Ya...ya aku mulai ingat sekarang!,”
Roro Jonggrang namanya, rupawan, cerdas, menarik dan yang terutama dia begitu cantik. Jangankan kaum jelata seperti ku, bangsawan saja memperebutkan dirinya dengan berbagai alasan, karena memang dia layak diperlakukan seperti layaknya kamu kini.
Ada yang karena ingin merenggut kecantikan paras-wajahnya, ada yang karena kecerdasan yang dimilikinya, bahkan ada yang hanya sekedar menuntaskan rasa bangga memiliknya.
Suatu pagi di saat fajar baru saja memancarkan bersit sinar di upuk timur, tat kala sang jago baru saja mengumandangkan suara khasnya, terlihat dari kejauhan, berdiri seorang pemuda gagah yang konon dari kalangan terhormat saat itu. Menyelinap, mengindik lalu syahdan mendengarkan tembang lirih dari suara indah milik rupawan kita, siapa lagi kalau bukan mengagumi kecantikan dan keindahan suara yang keluar dari bibir merah merekah milik Roro Jonggrang.
Lagu itu begitu merdu terdengar. Tiba-tiba hanya suara lirih yang terdengar. “Mengapa suara yang begitu merdu harus keluar dengan nada yang menyimpan kesedihan, amat disayangkan,” gumam sang pangeran dalam hati.
Penasaran yang menggelayuti isi pikiran sang pangeran pun semakin menunas, menyembul, sehingga tak kuasa ingin segera menayakan kepada Loro Jonggrang, kegamangan apa yang singgah itu?
Perlahan didekatinya si gadis.
“Apa yang membuatmu begitu sedih adinda? Bolehkan aku mendengarkan keluh kesah yang mendawai dari lirihnya kidung nyanyianmu?” sang pangeran coba menghibur.
“Awalnya aku begitu bangga memiliki semua yang tak dimiliki perempuan di zaman ini. Membuatku leluasa mengelak, mengatakan belum saatnya, memberikan sejuta harapan kepada ribuan pemuda yang ingin meminangku. Namun belakangan ini banggaku berganti duka, karena aku selalu dikejar-kejar dengan berjuta harapan tersebut, aku tak lagi bebas melenggangkan kakiku melangkah, menautkan hatiku berlabuh, karena aku semakin bingung oleh banyaknya pilihan yang memang seharusnya ku pilih,” katanya dalam lilih.
“Yang jelas aku begitu kalut, bimbang, dan seperti tak memiliki kepribadian, nanti berkata ya, nanti tidak, atau sebaliknya. Nah, kini, maukah ki sanak memberikan solusi untu masalahku ini,” diiringi isakan kecil.
“Wah..wah” terheran-heran sekarang.
“Ko, bisa-bisanya si Jonggrang yang konon sangat tertutup, justru kini ia mengutarakannnya kepada pemuda yang entah dari mana datangnya,”
“Baiklah. Sekarang berikan aku satu syarat agar aku dapat memastikan bahwa akulah sebenarnya yang tepat untuk kau pilih,” tuntas sang pangeran.
Terlihat wajah simpatik dari si cantik Jonggrang. Sebab, rona merah diwajahnya mulai terihat merekah, mulai nampak darinya sesuatu yang membuat si pemuda jatuh hati pada pandangan pertama. Pangeran itu bernama Bandung Bondowoso.
“Benarkah kau mampu melaksanakan tugas yang akan ku berikan kepadamu, Bandung Bondo Woso? Sekarang buatkan untukku 5 candi inti yang dikelilingi puluhan candi-candi kecil di sekelilingnya, untuk melengkapi 100 candi yang ku minta..!!,” tantang Jonggrang.
“Baiklah, tuan putri yang cantik, berapa waktu yang kamu minta untuk aku menyelesaikan pembangunan candi-candimu? Sebulan, 2 minggu atau seminggu?”
“Aku minta kamu menyelesaikan pembangunan ini sebelum fajar menyingsing esok!,”
“Aku akan menyelesaikannya sesuai permintaan kamu!” ujar Bandung.
“Oh ya, Athira. Singkat cerita, pembanguna pun dimulai, lamban namun pasti. Bandung memulai pembangunan candi itu dari yang kecil. Satu selesai, dua, tiga dan seterusnya sampe yang ke sembilan puluh sembilan,”
“Sayangnya, ketidak pembangunan sampai di angka ke-100, saat itu pula nampak sebuah kekaguman yang dibayangi khawatir dari wajah sang gadis. Jonggrang takut, kalau-kalau Bandung sanggup menyelesaikan tugas yang dia berikan,”
Berkata Loro Jonggrang dalam hatinya. “Selesai sudah keanggunan, kecantikan, kecerdasan dan kepiawaian mengombang-ambingkan perasaan pria yang ingin memilikiku. Pasti aku akan kehilangan segalanya yang selama ini aku bangga-banggan. Tak ada satupun lagi pria yang mendekatiku jika aku menerima Bandung. Tapi aku mencintainya,” sambil memalingkan wajah.
“Tahu kah kau Athira, ketakutan itulah yang menjadi petaka untuk Loro Jonggrang sendiri. Ketika ia telah menemukan tambatan hati yang memang sangat ia idamkan, saat itu juga ia membuang kesempatan itu. Perasaan takutnya teramat besar untuk nerima kenyataan bahwa ia memang harus menentukan siapa yang berhak mendampinginya, siapa yang berhak memilikinya,” ingat Ayodya kepada Athira.
“Semua memang selalu tak sejalan dan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita rasakan. Yang kita inginkan lebih banyak bertolak belakang dengan apa yang terjadi di depan mata kita. Bukankah begitu?” kata Ayodya lagi.
Pertautan dua insan yang saling mencinta dalam cerita itupun kandas, tak berujung pada rencana yang sudah dari awal di impikan. Karena keberanian untuk menentukan pilihan selalu dikalahkan ketakutan dan keraguan.
“Pesanku, jangan kau takut arungi dan pilih cinta yang kau rasakan. Karena semakin memungkiri kenyataan, semakin jauh pula kau dari kebahagiaan,” Athira coba mengingat pesan yang pernah disampaikan Ayodya dari cerita yang sedang dibacanya. Hasil tulisan Ayodya.
Senja berlalu, Athira kini mengingat cerita itu nyaris seperti kisahnya bersama Ayodya.Pria yang awalnya sangat berhasrat mencintainya kini harus singkirkan apa yang belum pasti. “Kau telah bohongi hatimu Ayodya!,” teriak Athira dalam hati.





